Blog EntryKecewa Atas Kebijakan TelkomselApr 9, '08 6:11 PM
for everyone

Kecewa Atas Kebijakan Telkomsel

 

Saia adalah pengguna layanan telkomsel dengan simpati PeDe-nya. Seperti yang kita ketahui bahwa beberapa waktu yang lalu telkomsel melalui simpati mengeluarkan layanan nelpon murah dengan tarif per detik ke sesama telkomsel. PeDe, gitu singkatannya. Tentu saja layanan ini membuat saia senang dan segera melakukan aktivasi tarif melalui handphone saia.

            Tak tanggung-tanggung, lalu saia mengusulkan bapak di rumah agar mengaktifkan layanan PeDe ini karena kami memang menggunakan Simpati sejak lama.

            Sisi ekonomisnya, layanan tarif per detik ini membuat pelanggan telkomsel bersorak karena menelpon ngga mahal lagi. Sekedar pemberitahuan bahwa, tarif Rp 0,5 per detik yang diusung Simpati akan berlaku setelah menit pertama. Pada menit pertama diberlakukan tarif Rp 25 per detik. Jadi, satu menit awal pengguna Simpati PeDe akan menghabiskan pulsa Rp 1.500 rupiah (60*25) dan setelahnya baru berlaku 0,5 per detik. Jika satu jam nelpon ke sesama operator biayanya hanya Rp 3.270,-. Tarif ini masih berlaku sampai 31 Maret 2008.

            Sekarang? Setelah tanggal di atas, Telkomsel menerapkan sistem baru walaupun dengan tarif tetap 0,5 per detik. Sistemnya begini! Tarif 25 per detik akan tetap berlaku di menit pertama ke sesama telkomsel. Setelah itu tarif 0,5 per detik juga berlaku tetapi, itu untuk kelipatan 5 menit. Gimana yah? Jadi, untuk menelpon selama 5 menit maka, jumlah pulsa yang dibutuhkan adalah

Menit 1 = 1500

Menit 2 = 0,5 * 30

Menit 3 = 0,5 * 30

Sampai menit ke 5.

Jadi, menelpon selama 5 menit membutuhkan pulsa 1.620. Setelah itu, maka tarifnya dimulai lagi dari awal. Atau dengan kata lain tarif itu berulang untuk periode kelipatan yang sama. Nah loh?        

Nah, gimana kalo sejam atau 60 menit? Jadi, ada 12 kali periode kelipatan 5 itu berulang. Jadi, biaya pulsanya melonjak menjadi Rp 19.440. Nilai ini jauh lebih mahal dibandingkan dengan tarif sebelumnya. Saia kena sistem ini saat menelpon calon gebetan (ciieee :p) dan bunyi “tut” mengakhiri pembicaraan kami yang baru berjalan 20 menit.

            Saia kecewa dengan Telkomsel. Teringat akan layanan yang buruk saat tarif 0,5 per detik awalnya, karena sering ga masuk atau “berada di luar jangkauan” yang paling parah network busy ituh. Tapi, ada saat-saat jaringannya bagus dan jernih. Sekarang dengan pemberlakuan sistem 5 menit ini membuat saia enggan menelpon. Katanya kualitas jaringannya membaik. Tapi, saia belum mendapatkannya karena baru sadar kemarin.

            Telkomsel memberikan sedikit kompensasi dengan layanan sms murah ke sesama telkomsel dengan biaya Rp 100 sekali sms dan Rp 150 ke operator lain. Entahlah layanan ini mengobati kekecewaan saia. Mungkin, saia yang kurang mengikuti perkembangan perang tarif ini karena begitu sadar, saia langsung browsing dan mencari-cari kebenarannya. Dan memang itu sudah berlaku sejak 1 April 2008 kemarin. Kecewa saia.

            Dengan pemberlakuan tarif baru telkomsel ini makin membuat saia yakin bahwa Negara saia adalah negara yang paling mahal tarif teleponnya. Saia kecewa padamu, Telkomsel.

            Informasi tarif Telkomsel ini bisa di lihat disini.

 

 

Salam,

 

Pelangganmu


15 CommentsChronological   Reverse   Threaded
iswandi wrote on Apr 9
Sama. I'm disappointed too
cintaitumerah wrote on Apr 9
Udh...ganti pr0vider aj mas..
Hehe...
Aq udh pk ind0**t i*3 dari zaman msh SMA smp skrg (semester akhr S1) alhmdlh gak ada yg ribed2 ky gt. Murah pula..
Hehe..jd serasa milyuner,mending tlp aj drpd sms..hehe.
Secara murmer aj gt tlp kmn aj..

Br0wsing internet jg cpt aj:)
Download apapun jg murah..
Apalagi k0munitas gr0up dan b0nusnya jg seru..
Hehe...
This just FYI..
(Tp malah ky mempr0v0kat0r y:p)


TFS,,

*piss
mmamir38 wrote on Apr 9
Biasa! Siasat dagang busuk.
Narik pelanggan dulu, baru cekik mereka!
agarigi wrote on Apr 10
Iya.. kompensasi-nya terlalu njomplang... jadi terasa banget bedanya..
tapi ya.... namanya juga pedagang.. he..he....
largaenciel wrote on Apr 10
tenyata korban iklan ngga hanya gw sendiri ya..
ada banyak juga ternyata..:kakaka:
othersides wrote on Apr 10
Biasa! Siasat dagang busuk.
Narik pelanggan dulu, baru cekik mereka!
kalo pendapat Om Dokter siy, emang tepat kayakna


ckckckckckckck
othersides wrote on Apr 10
tenyata korban iklan ngga hanya gw sendiri ya..
ada banyak juga ternyata..:kakaka:
siapa duluan hayoo...?

hehehe
otto13 wrote on Apr 10
Ehm..., Otto menggunakan XL..., dan gak peduli dengan tarip yang dibebankan..., sejak XL termahal sampai ancur-ancuran saat ini....
Tetep Otto gak peduli..., karena udah resiko pengguna jasa....
Tahukan iklan indosat yang baru...., itulah yang terjadi pada pengguna saat ini..., itung-itungan mbulet....
Lebih baik..., pilih satu..., gunakan selamanya...., gak usah pusing ama tarip....
othersides wrote on Apr 10
otto13 said
Ehm..., Otto menggunakan XL..., dan gak peduli dengan tarip yang dibebankan..., sejak XL termahal sampai ancur-ancuran saat ini....
Tetep Otto gak peduli..., karena udah resiko pengguna jasa....
Tahukan iklan indosat yang baru...., itulah yang terjadi pada pengguna saat ini..., itung-itungan mbulet....
Lebih baik..., pilih satu..., gunakan selamanya...., gak usah pusing ama tarip....
terkejut aja

dan kecewa dengan trik promosinya

hahahaha
rebirth2life wrote on Apr 10
Senpai... saya turut prihatin...
gimana keadaan Senpai sekarang?
Udah mendingan?
othersides wrote on Apr 10
Senpai... saya turut prihatin...
gimana keadaan Senpai sekarang?
Udah mendingan?
iya

simpati na buat sms ajahh

wakakakkak
otto13 wrote on Apr 10
Wee..., olahraga jempol ya......
othersides wrote on Apr 10
otto13 said
Wee..., olahraga jempol ya......
iya, om

balik ke jaman-jaman dulu suka sms aja daripada nelpon

hehehe
benediony wrote on May 17
namanya jga Indonesia, mana ada yang muRah.
othersides wrote on May 17
namanya jga Indonesia, mana ada yang muRah.
tarif nelpon ga ada subsidi yah?

ahak...hak...hak...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.