Hasil Akhir
Sebuah cerpen oleh Christ
Pagi hari yang bersahabat dengan senyuman paling ramah kepada penghuni bumi. Saat itu mentari bersinar cerah dan berhasil menerobos kawanan awan yang berubah merah jingga. Hingga salah satu pancaran sinarnya jatuh ke sebuah wajah gembira di jalanan.
Pinggiran kota. Pemuda yang jelas adalah seorang siswa SMU dengan seragam khas putih abu-abu menempel bersih dan makin bercahaya itu. Sang pemuda berjalan dengan langkah ringan dan terlihat senang. Senyum di bibirnya makin menunjukkan kesiapannya menemui dunia di pagi hari. Siswa itu membawa sebuah tas pinggang berwarna biru pekat yang tergantung di bahu kiri dan menyilang di badannya. Dia tidak memegang apa-apa. Namun, sepertinya sebuah asa dan cita-cita akan sesuatu di ruang kelasnya pagi ini.
“Udah siap?” tanya seseorang siswi begitu ia tiba di ruang kelas yang sudah dipenuhi pelajar lainnya. Pemuda itu tersenyum menanggapi. Ia sudah mempelajari apa yang dia yakini bakal dikeluarkan lewat kertas soal ulangan harian Matematika pagi ini. Temannya itu mengangguk yakin.
“Kalo gitu, kasih tahu aku ya, Gun!” pintanya dengan senyum nakal.
…
Ulangan Matematika sedang berlangsung. Seorang guru dengan kacamata tebal sedang berjalan-jalan memperhatikan para siswanya dalam menjawab soal-soal yang ia berikan. Kertas serupa terhampar di setiap meja dan hanya terisi separuh. Akan tetapi, jawaban yang ia minta itu malah membuat para siswanya berkali-kali menggaruk-garuk kepala. Bapak Guru itu terkesan galak dan tidak ada senyum hangat yang dia berikan demi menenangkan hati siswanya. Dan, memang soal-soal itu demikian sulitnya. Juga buat “pemuda yakin” tadi.
…
“Aku harus pergi. Kita ketemu di rumah Aldi buat belajar kelompok yah! Entar malem aku datang kira-kira jam 8. Bye,” pemuda itu segera berlalu tanpa menunggu tanggapan keempat temannya yang sedang duduk berunding tentang belajar kelompok malam ini. Pemuda itu berlalu, agak berlari sambil memegangi tasnya agar tidak berguncang.
“Kenapa sih dia? Buru-buru amat!” komentar Wandi melihat tingkah Gunawan yang seperti itu.
“Paling latihan sepak bola sore ini. Dia pasti ngga mau terlambat. Kemarin dia bilang, ada pertandingan penting nanti. Udah ah, aku balik dulu. Laper!” Boni menanggapi dan berlalu pergi menuju pintu gerbang sekolah.
…
“Wan!!! Jaga ketat striker mereka itu! Dia itu licin!” teriak pemuda tadi yang sekarang berkostum seorang kiper sepak bola. Ia berdiri di bawah mistar gawang dengan kostum lengkap. Di punggungnya terdapat angka 1 dan namanya. Ia tampak kesulitan memberi perintah kepada rekan se-timnya untuk mengawal para penyerang tim lawan.
Tim lawan membangun serangan dari sayap. seorang pemain sayap berlari sambil menggiring bola dengan cepat menyusuri pinggir lapangan. Salah seorang rekan Gunawan - pemuda tadi – mencoba menghadang. Tetapi, ia kalah cepat. Hingga pemain sayap itu melepas umpan yang diterima rekannya yang telah berdiri di depan gawang tanpa off-side.
“Hadang, Wan!!! Hadang!!!” perintah Gunawan. Namun terlambat. Penyerang itu melepas tendangan keras mengarah ke pojok kanan gawang. Gunawan mencoba menepis dengan melompat. Tetapi, ia tak mampu menjangkau bola itu. Gol!!!
Tim Gunawan pulang dengan kekalahan 4-3!
…
Gunawan, sang pemuda dengan senyum cerah itu terlihat berlari kecil sambil berusaha melewati para penjual buah-buahan di pinggir jalan. Mungkin, ia menggerutu karena trotoar yang seharusnya digunakan penjalan kaki malah disalahgunakan pedagang kaki lima untuk menyambung hidup. Padahal, sudah beberapa kali ditertibkan aparat.
Gunawan mengenakan pakaian yang rapi dengan kaos abu-abu serta celana jeans yang membuat ia bergerak leluasa. Ia menggenggam sebuah kotak kecil berwarna merah. Demikian eratnya agar tidak terjatuh. Hari ini ia akan menemui pacarnya yang sedang menunggu di sebuah kafe. Ini hari ulang tahun sang pujaan hati. Dan Gunawan ingin segera sampai di tempat itu karena ia sudah terlambat 30 menit dari waktu yang dijanjikannya.
…
“Kenapa baru datang sekarang?” seorang gadis protes dengan suara keras sehingga mengundang perhatian beberapa pengunjung kafe senja itu.
“Maaf, Cinta. Aku tadi ada pertadingan. Ada perpanjangan waktu. Jadi, agak terlambat. Sorry yah,” Gunawan memberikan penjelasan sesungguhnya. Nafasnya terengah-engah dan belum sempat duduk. Pacarnya langsung menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan karena kesal menunggu terlalu lama. Sekitar 40 menit!
“Huh! Selalu saja itu alasanmu! Kalau ngga pertandingan, ya belajar kelompok,” katanya dengan kesal.
“Aku gantikan jadwal belajar kelompok jadi malam ini jam delapan. Kita masih punya waktu sekitar 2 jam untuk makan, Cinta,” sahut Gunawan.
“Ya udah. Aku maapin.”
“Gitu dong! Nah, aku bawain ini buatmu. Happy Birthday!” Gunawan menyerahkan kotak merah itu kepada pacarnya. Sang pacar menerimanya dengan hati senang dan segera membukanya. Pelan kotak itu terbuka dan Cinta mengintip ke dalamnya, mempertanyakan isinya sendiri dalam hati.
Namun, ia kecewa. Itu jelas terlihat dari raut wajahnya yang masam. Tatapannya jadi lesu dan tak bersinar. Bingung dan diambilnya sesuatu dari dalam kotak merah itu dengan menjumputnya. Sebuah bunga mungkin, berwarna putih kusam agak kekuning-kuningan. Sekuntum bunga tanpa tangkai yang sudah layu tapi masih berbentuk.
“Apa ini?” tanyanya heran.
“Itu aku dapat dari perjalananku ke Gunung. Itu bunga Edelweis. Bunga abadi yang dilarang dipetik. Tapi, aku mau…”
“Untuk apa?” potong pacarnya dengan nada tak penting itu.
“Aku mau nunjukin sama kamu kalau cintaku itu seperti…”
“Ah, ga penting. Bunga apa kayak begini. Ga berwarna lagi. Mau ditaruh dimana?” tanyanya kesal.
“Cinta…” Gunawan mencoba memberikan pengertian.
“Ah, percuma! Ngga asyik. Aku mau pulang aja ah!”
“Cinta, tunggu dulu. Aku belum selesai. Kita belum makan pun!”
“Aku ngga laper lagi. Makasih.” Cinta berlalu dan meninggalkan bunga itu di atas meja dengan kotaknya.
“Cinta!”
Tapi gadis itu tetap berlalu dan meninggalkan Gunawan dengan penjelasan yang tergantung. Raut kesedihan terbit kesekian kali di wajahnya. Ia tertunduk duduk di kursi. Menggenggam bunga abadi seperti cintanya itu. Seharusnya!
…
“Gun, sini! Papa mau ngomong!” terdengar suara berat dari dalam ruangan tengah yang ditujukan kepada Gunawan yang sedang duduk santai di kamarnya. Mendengarkan musik sambil membaca buku Sejarah. Ia beranjak keluar kamar dan menemui ayahnya yang sedang duduk di sofa.
“Ada apa, Pah?” tanya Gunawan begitu ia duduk di sofa yang lain.
“Gimana sih nilai-nilai ulanganmu itu? Nampaknya prestasimu menurun. Kau udah malas belajar?” tanya ayahnya.
“Ngga kok,” sahut Gunawan seadanya.
“Lalu, kenapa ulangan nilai Matematikamu cuma dapat 60! Mau jadi apa kau?” tiba-tiba ayahnya membentak.
“Loh! Papa kok jadi marah-marah begitu? Kalau emang cuma dapat 60 mau dibuat gimana? Paling-paling ulangan berikutnya akan saya tingkatkan!” Gunawan mulai berang akan kritik ayahnya itu.
“Kamu itu ya! Makanya, belajar yang rajin! Kalau nilaimu seburuk ini, mau jadi apa nanti?”
“Ah, Papa cuma tahu menuntut. Papa cuma tahu dari hasil akhir. Papa ngga pernah mikirin gimana perjuangan buat ngejawab soal-soal itu. Memang Papa pintar. Tapi, aku kan ngga sepintar Papa! Lalu, apa aku salah kalau ngga bisa kayak Papa?” Gunawan terlihat emosional. Bahunya bergetar.
“Papa sama saja sama pelatihku! Papa sama saja sama Cinta! Kalian ngga mikirin gimana beratnya mempertahankan sesuatu. Padahal, aku udah berusaha menjaga gawangku. Mengatur agar pertandingan bisa kami menangkan. Tapi, mereka ngga tahu gimana tekanannya. Cinta juga gitu! Dia ngga sadar! Ngga ngerti gimana aku berusaha ngambil hadiah itu untuk dia. Dia juga ngga berusaha buat menghargai apa yang kulakukan buatnya. Papa juga! Papa seharusnya bisa ngerti gimana beratnya perjuangan buat jawab soal itu. Aku musti belajar tiap malam. Sampai ikut belajar kelompok. Aku udah yakin sama apa yang aku pelajari. Tapi, kalau nyatanya aku cuma bisa dapat nilai 60, itu kan bukan salahku! Aku udah berusaha, Pa! Aku jalanin prosesnya dengan kemampuanku. Kenapa yang kalian nilai cuma hasil akhir?!”
Christ
04.100408.23.15