Blog EntryDi Ruangan UjianApr 24, '08 6:16 AM
for everyone

Di Ruangan Ujian

 

Suasananya hening seperti kuburan tanpa bunyi sedikitpun. Hampir, karena hanya ada dengungan mesin kenderaan sayup-sayup kejauhan. Juga beberapa burung kecil rewel di pucuk bunga kelapa bersemi di mendung pagi ini.

            Di sebuah ruangan yang cukup luas di gedung fakultas MIPA, sepertinya ujian semester sedang berlangsung. Terlihat kerut-merut kening para mahasiswa peserta ujian dalam warna berbeda-beda. Masing-masing tenang seolah-olah nyaman tapi, nyatanya pikiran sedang menggali tumpukan pengetahuan yang selama ini ditimbun. Menumpuk berantakan.

            Dua orang dosen pengawas terlihat berputar-putar di setiap lorong barisan kursi. Seperti mencari-cari ekor kecurangan mahasiswa dan akan membeberkannya kepada dosen penanggung jawab mata kuliah. Mata jalang menyusuri seisi ruangan dan peserta ujian. Memperhatikan gerak-gerik yang mencurigakan.

            Keadaan seperti itu tentu tak menguntungkan Job yang sedang duduk di barisan kedua dari pintu masuk, tepat di kursi kelima dari meja pengawas. Wala ujian dilaksanakan ia sudah merasa tak nyaman dengan posisinya dan menggerutu setengah mati. Job takkan punya kesempatan mengintip contekannya, atau berusaha meminta bala bantuan kepada Andree yang duduk dua kursi darinya. Sebelah kiri. Lorong tempat Pak Brown berdiri. Mereka terlalu jauh untuk melakukan komunikasi darurat. Satu-satunya jalan hanyalah telepati. Tetapi tak mungkin dilakukan karena jelas, mereka tidak punya kemampuan tersebut.

            30 menit berlalu. Itu berarti waktu yang tersisa adalah 60 menit. Kertas jawaban Job masih kosong sekosong otaknya. Ia mulai frustasi sembari melirik kesana-kemari. Maya yang duduk di depannya tak pernah melirik ke belakang sama sekali. Sedangkan Bobby yang dibelakangnya sedari tadi mengetuk kaki kursi Job dengan kakinya sendiri : meminta bantuan.

            Tiada yang bisa diharapkan. Job mulai menyesal karena tidak pernah serius belajar. Bayangan alfabet E terbang di atas kepalanya yang panas. Lalu, ia teringat juga akan kemalasannya yang tidak mau mencatat saat dosen menerangkan di depan kelas. Apalagi membaca buku! Job tak pernah lagi melakukannya sejak kuliah. Lalu diingatnya juga ujian sebelumnya. Tidak ada yang sukses! Semua berakhir dengan jawaban asal-asalan. Seperti menulis cerita!

            “Andree! Kerjakan sendiri!” Itu suara Pak Brown yang berat seperti mengguncang ruangan. Ia menatap Andree yang dari tadi berusaha memberi kode kepada Dimas di sampingnya.

            “Sekali lagi kau menjentikkan jari seperti itu, kertas jawabanmu saya ambil!” ancam Pak Brown dengan tegas yang semakin membuat ketegangan di antara peserta ujian. Andree tertunduk. Ia tertangkap mata Pak Brwon. Job mengangguk tanda mengerti bahwa Andree juga kesulitan menjawab soal Matematika Diskrit itu. Job mengurungkan niat meminta bantuan padanya. Sedangkan yang lain sempat-sempatnya tertawa cekikikan.

            “Husshh! Kerjakan itu!” bentak Pak Brown lantan. Keadaan kembali tenang.

            60 menit sudah! Tinggal setengah jam lagi. Kertas jawaban Job masih kosong.ia meremas-remas rambut gondrongnya sambil tertunduk. Ia sudah kalah. Merasa kehancuran sudah berada di hadapannya. Tersenyum ingin memeluk.

            “Malaikat Penolongku! Datanglah!” desahnya lirih.

            “Di saat begini mengharapkan malaikat? Mungkinkah malaikat tahu tahu menyelesaikan 5 soal super rumit itu? Tidak!” rintihnya. Lalu, ia menegakkan kepala mencoba tegar menghadapi nasibnya hari itu.

            Jantungnya berdegub kencang setelah sesuatu muncul di depan hidungnya secara tiba-tiba. Wajah sangar Pak Brown!

            “Kau mau buka ngopek ya?” tanyanya dingin sambil agak membungkuk. Seluruh peserta ujian langsung melirik ke arah Job. Sebagian lagi menggunakan celah tersebut untuk saling bertukar lembar soal yang bagian belakangnya telah diisi request jawaban dan jawaban pembayarnya. Barter! Sehingga dosen pemeriksa hanya butuh satu lembar jawaban, tapi sudah mengetahui jawaban peserta lain.

            “Ng…ngga, Pak. Sa…saya ngga ngo…ngopek,” kata Job sambil mengendalikan keterkejutannya. Pak Brown bangkit dan berpatroli lagi.

            10 menit lagi! Belum juga ada perubahan signifikan pada lembar jawaban Job kecuali tulisan “Jawaban” serta keterangan lengkap peserta ujian. Job sudah pasrah akan nasibnya. Ia melirik arlojinya. Ia takkan punya cukup waktu menulis seandainya ada yang memberi jawaban soal itu padanya. Jawaban kelima soal itu pasti panjang-panjang, pikirnya.

            Tiba-tiba Maya bangkit dan merapikan lembar jawabannya. Ia melihat ke arah Pak Brown dan Ibu Delima.

            “Sudah siap, Maya?” tanya Ibu Delima ramah.

            “Sudah, Bu!” sahut Maya yakin. Sempat ia melirik Job yang kelihatan suntuk dan frustasi. Ia tersenyum saat pandangan mereka beradu.

            Maya berjalan menuju meja pengawas menyerahkan lembar jawabannya yang sudah terisi penuh. Mau tak mau Pak Brown dan Ibu Delima kembali juga ke meja jaganya. Sedikit celah terbuka! Kertas-kertas beterbangan setinggi bahu dan senyap kembali begitu Pak Brown menebar ancaman. Peserta ujian kembali sibuk.

            “Kau sudah boleh pulang,” ujar Pak Brown.

            “Permisi, Pak, Bu,” balas Maya. Ia kembali ke kursinya mengambil sesuatu yang tertinggal. Saat itulah ia bisa melihat wajah Job dengan bebas dan lebih lama. Job memelas hingga Maya akhirnya iba dan menjatuhkan sesuatu ke lantai. Selembar kertas yang terlipat jatuh tepat di depan ujung sepatu Job. Hal itu luput dari pandangan Pak Brown dan Ibu Delima karena sedang melihat jawaban Maya tadi.

            Akhirnya, Malaikatku! Job menjatuhkan pulpen dan memungutnya kembali beserta kertas tadi. Ia sudah siap menulis dan membuka kertas itu dengan hati-hati

 

            MAKANYA BELAJAR, DONG!!!

            ???

            Hanya itu yang tertulis di kertas putih tersebut. Kedua tanganya terkulai lemah. Job semakin tenggelam di kursinya.

            5 menit lagi!

            “Ngga ada gunanya punya pacar pintar!” rutuknya dalam hati.

 

 

Christ

04.240408.16.54


agripzzz wrote on Apr 24
Yuhuuuuuuuuuuu... Gud luck ya! Moga2 sukses dah....
3rdevolution wrote on Apr 28
hihii lucu. nice postingan de.
othersides wrote on Apr 28
hihii lucu. nice postingan de.
makasiy,
padahal saia bukan mau cerpen ini bergenre komedi loh!

hehehehe
Comment deleted at the request of the author.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.