Di Warnet
Mendung. Musim hujan tampaknya memang jadi datang. Dan beberapa hari yang lalu telah turun hujan dan membasahi kotaku. Medan yang panas!
Aku masih duduk di depan komputer dengan tenang. Lantunan lagu One Last Breath yang sangat kugemari itu ku-play lagi melalui winamp. Sementara mereka tidak keberatan.
Seorang pria paruh baya berpakaian necis masuk ke ruangan dan menuju tempatku duduk. Ia berdiri di belakang monitor 15 inch-ku. Sambil membuka kacamata hitamnya ia bicara dengan agak berbisik.
“Dek, ada film?” tanyanya.
“Film? Oh, maaf, Pak. Kami tidak menyediakan itu disini,” jawabku seramah mungkin. Dia tersenyum, namun tetap tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Lalu, ia berlalu dan duduk di depan komputer nomor 6. Tepat di hadapanku. Lalu muncul username di monitorku melalui aplikasi billing. Dodolz, itu username bapak tadi.
Hari bertambah gelap. Beberapa menit kemudian dua orang pelajar SMU masuk ke ruangan. Mereka masih mengenakan seragam dan langsung menyapaku yang menaikkan sebelah alis menyambutnya.
“Bang! Ada nyimpan film ga?” tanya salah seorang dari mereka sambil cengengesan. Sementara yang satu lagi melihat kesekeliling.
“Ngga ada, Dek,” jawabku dengan agak menyesal. Mereka diam dan sambil berpandang-pandangan.
“Kalo situsnya, Abang tahu?” tanyanya lagi tak putus asa.
“Hmm, cari aja di google. Pasti ketemu!” usulku. Lalu mereka berlalu dari meja operator menuju komputer 17. Komputer paling ujung dan tepat di sudut ruangan. Beberapa detik kemudian, username mereka muncul di layar monitorku : rocky.
Kusibukkan diri mengetik cerpen yang ingin kuposting di blog pribadiku. Kadang aku kesal juga karena user mengganggu konsenstrasiku saat menuangkan ide.
30 menit berlalu aku berkutat dengan pengetikan, tiga orang anak kecil – mungkin pelajar SD – memasuki ruangan sambil tertawa riang. Mereka terus berlalu tanpa mendatangiku. Syukurlah, pikirku. Mereka tidak menanyakan tentang film tapi langsung menghidupkan komputer 5.
Beberapa menit kemudian, aku merasa ada seseorang yang memanggilku. Pastilah itu suara salah satu user. Aku beranjak dan mencari asal suara itu. Pastinya, ia membutuhkan bantuan.
Ternyata, dua orang siswi SMP di komputer 8.
“Ada apa, Dek?” tanyaku seramah mungkin.
“Bang, kalo mau liat film situsnya apa?” tanyanya pelan. Sementara temannya yang lumayan cantik itu tertawa cekikikan, “Film itu loh, Bang!” sambungnya memperjelas pertanyaannya tadi. Aku masih terpaku. Lalu tersadar saat refrain lagu I Don’t Love You terdengar keras lewat spekar.
Aku mengetikkan sesuatu melalui keyboard komputer itu dan mempersilahkan adik-adik manis itu menunggu proses loading. Mereka melirik dan mengangguk-angguk.
“Makasih ya, Bang!” katanya dengan senyum. Aku membalasnya dan beranjak kembali ke mejaku. Aku takkan menunggu bersama mereka hingga tampilan web itu muncul.
Otakku masih terguncang dengan yang terjadi. Lalu, aku berusaha kembali ke kegiatanku. Tapi, rasa penasaran di hati terasa sangat menggelitik. Lalu kulihat melalui komputer di depanku, siapa nama user yang di komputer 8 tadi. Biasanya, pelanggan mengetikkan nama aslinya saat pertama login. Dan, melalui aplikasi billing, nama mereka itu akan muncul di depan layarku. Ini adalah aplikasi yang biasa di warnet-warnet.
Tapi, dia tidak! Siswi SMP itu membuat xhjhhhhhh sebagai nama usernya. Aku segera menutup windows billing tersebut. Tapi, ada sesuatu yang membuatku tergelitik melihat username di komputer 5. Username-nya www.bokep.com.
“Ya, Tuhan…”
Christ